24 Peternak di Lombok Tengah Ubah Kotoran Sapi Jadi Pupuk Kompos dan Silase lewat Program UNRAM

Penulis: Ridho Pratama  •  Sabtu, 26 September 2026 | 13:46:31 WIB
Peternak di Desa Nyerot, Lombok Tengah, mengikuti pendampingan Tim Profesor Berdampak UNRAM untuk pengelolaan limbah ternak.

PRAYA — Tim Profesor Berdampak Universitas Mataram (UNRAM) menuntaskan pendampingan di Kelompok Ternak Pantang Mundur, Desa Nyerot, Kecamatan Jonggat, Kabupaten Lombok Tengah. Program bertajuk Adopsi dan Diseminasi Teknologi Pengolahan Pakan dan Pengelolaan Limbah Ternak itu diketuai Prof. Ir. Yusuf Akhyar Sutaryono, Ph.D., bersama sejumlah guru besar dan peneliti UNRAM. Fokusnya tiga hal: sanitasi kandang, pemanfaatan limbah, dan penyediaan pakan berkelanjutan.

Drainase Kandang Dibangun Ulang, Genangan dan Bau Berkurang

Sebelum pendampingan, pemeliharaan sapi di Desa Nyerot masih dilakukan dengan cara tradisional. Saluran pembuangan belum tertata, sehingga feses dan urine tidak mengalir sempurna. Genangan muncul, bau menyengat, dan lingkungan sekitar ikut terdampak.

Tim UNRAM mendorong perbaikan fasilitas kandang, terutama saluran pembuangan limbah. Feses dan urine kini diarahkan melalui drainase yang lebih baik untuk ditampung dan diolah. Hasilnya, kandang lebih bersih dan pemeliharaan sapi dinilai lebih sehat.

Kotoran Sapi Diolah Jadi Pupuk Kompos dan Pupuk Organik Cair

Pendampingan tidak berhenti di pembenahan fisik kandang. Peternak juga diarahkan mengubah cara pandang terhadap limbah. Feses yang sebelumnya menumpuk dikumpulkan untuk diolah menjadi pupuk kandang kompos. Urine sapi dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik cair.

"Limbah yang sebelumnya menjadi beban, diarahkan menjadi produk yang memiliki manfaat dan nilai ekonomi. Konsep tersebut sekaligus menerapkan prinsip ekonomi sirkular dengan memanfaatkan kembali sumber daya yang tersedia di sekitar peternak," kata Prof. Akhyar.

Silase Jadi Cadangan Pakan Saat Musim Kemarau

Persoalan pakan menjadi perhatian berikutnya. Peternak selama ini bergantung pada rumput hijauan yang harus dicari setiap hari dari area persawahan. Saat kemarau, produksi hijauan menurun dan pasokan pakan ikut terganggu.

UNRAM memperkenalkan teknologi silase. Hijauan seperti rumput gajah, rumput odot, dan tebon jagung difermentasi agar bisa disimpan lebih lama. Penyimpanan dilakukan dalam wadah tertutup seperti silo atau tong supaya proses fermentasi berjalan optimal.

Dengan cadangan silase, peternak tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pencarian rumput harian. Kebutuhan pakan bisa direncanakan lebih baik, sementara waktu dan tenaga peternak lebih efisien.

Respons Peternak: Saluran Pembuangan Bantu Kelola Kotoran

Ketua Kelompok Ternak Pantang Mundur, Abdurrahman, menilai pendampingan UNRAM sesuai dengan kebutuhan peternak. Perbaikan saluran pembuangan dinilainya membantu pengelolaan kotoran sapi.

"Perbaikan saluran pembuangan membantu peternak mengelola kotoran sapi dengan lebih baik serta menciptakan lingkungan pemeliharaan yang lebih layak," ujar Abdurrahman.

Kandang Sehat, Limbah Bernilai, Pakan Mandiri

Program Profesor Berdampak UNRAM diarahkan mendukung sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs). Mulai dari sanitasi dan pengelolaan lingkungan, produksi berkelanjutan, peningkatan ekonomi, ketahanan pangan, hingga adaptasi terhadap perubahan iklim.

Transformasi di Desa Nyerot menunjukkan peningkatan ekonomi peternak tidak semata bergantung pada harga jual sapi. Kotoran ternak dan rumput lokal yang selama ini dianggap sederhana bisa diolah menjadi bagian dari sistem usaha yang bernilai.

"Dari kandang yang sebelumnya menghadapi persoalan sanitasi, limbah, dan keterbatasan pakan, Desa Nyerot kini didorong menuju model peternakan yang lebih bersih, efisien, mandiri, dan berkelanjutan," tutup Prof. Akhyar.

Reporter: Ridho Pratama
Sumber: radarlombok.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top