NUSA TENGGARA BARAT — BYD mengoperasikan fasilitas manufaktur di Fuzhou, Jiangxi, dengan lini pencetakan, pengelasan, pengecatan, dan perakitan akhir yang berjalan efisien. Robot industri serta kendaraan berpemandu otomatis (AGV) bekerja terkoordinasi di sepanjang proses, menghasilkan kontrol digital menyeluruh atas setiap tahap produksi.
Proses manufaktur di fasilitas Fuzhou terbagi ke dalam empat tahap besar yang saling terhubung. Tahap pertama adalah pencetakan atau stamping, tempat panel bodi dibentuk dari lembaran logam. Setelah itu masuk ke tahap pengelasan yang menyatukan rangka kendaraan.
Tahap berikutnya adalah pengecatan, dilanjutkan perakitan akhir yang menggabungkan komponen mekanis, baterai, dan interior menjadi satu unit utuh. Keempat tahap tersebut berjalan efisien berkat koordinasi antara perangkat keras dan sistem kendali digital.
Robot industri mengambil alih pekerjaan yang menuntut presisi tinggi dan pengulangan konsisten, seperti pengelasan titik dan pemindahan panel bodi. Sementara itu, AGV mengangkut material dan komponen antarstasiun kerja tanpa perlu operator manusia di belakang kemudi.
Kombinasi keduanya membuat aliran material di lantai produksi tidak bergantung pada jalur tetap. AGV dapat mengikuti rute yang diprogram dan disesuaikan dengan kebutuhan lini, mengurangi waktu tunggu antarproses.
Yang membedakan fasilitas Fuzhou adalah cakupan kontrol digitalnya. Pemantauan tidak hanya dilakukan di satu titik, melainkan mencakup keseluruhan proses dari pencetakan sampai perakitan akhir.
Dengan pemantauan menyeluruh, deviasi kualitas bisa terdeteksi lebih cepat sebelum unit masuk ke tahap berikutnya. Data dari setiap stasiun kerja juga memungkinkan penelusuran riwayat produksi per unit.
BYD merupakan salah satu produsen kendaraan listrik terbesar di dunia dengan jaringan fasilitas manufaktur yang tersebar di berbagai wilayah China. Fasilitas Fuzhou di Jiangxi masuk dalam jaringan produksi tersebut dan berperan memasok kendaraan untuk pasar domestik maupun ekspor.
Tingkat otomatisasi yang tinggi di lini Fuzhou mencerminkan arah industri manufaktur otomotif China secara umum. Pabrikan berlomba menekan waktu siklus produksi sekaligus menjaga konsistensi kualitas di volume besar.
Bagi konsumen Indonesia, gambaran fasilitas manufaktur seperti Fuzhou memberi konteks soal asal produksi kendaraan listrik yang masuk ke pasar lokal. BYD sendiri sudah memasarkan sejumlah model di Indonesia, meski unitnya dipasok dari jaringan produksi di luar negeri.
Sejauh mana tingkat otomatisasi ini berdampak pada harga jual di pasar Indonesia bergantung pada banyak faktor lain, termasuk tarif, logistik, dan kebijakan insentif kendaraan listrik. Yang jelas, kapasitas produksi besar menjadi modal pabrikan dalam bersaing di segmen yang semakin ramai.