Lima Tahun Merger, Pelindo Klaim Produktivitas Terminal Naik 70 Persen

Penulis: Okta Nugraha  •  Rabu, 07 Oktober 2026 | 08:48:01 WIB
Pelindo mencatat produktivitas terminal peti kemas naik lebih dari 70 persen sejak merger pada 2021.

NUSA TENGGARA BARAT — PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo mencatat produktivitas terminal peti kemas naik lebih dari 70 persen sejak merger pada 2021. Standardisasi layanan di 32 terminal yang dikelola disebut menjadi kunci pemangkasan waktu singgah kapal dan barang. Perbaikan itu berdampak langsung pada efisiensi biaya logistik nasional.

Paragraf pembuka: Corporate Secretary PT Pelindo Terminal Petikemas, Widyaswendra, mengatakan transformasi pascamerger dijalankan lewat standardisasi, sistematisasi, dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia. Dari total 32 terminal yang dikelola, hampir seluruhnya menunjukkan perbaikan nyata. Peningkatan kompetensi dan pengetahuan antar-terminal berjalan otomatis karena standardisasi.

Produktivitas Naik, Port Stay Berkurang

Widyaswendra menyebut kenaikan produktivitas lebih dari 70 persen itu turut memangkas waktu singgah kapal atau port stay. Dampaknya, pelanggan memperoleh nilai layanan yang lebih baik sekaligus lebih efisien.

Efek serupa terlihat pada cargo stay atau waktu singgah barang di pelabuhan. Menurut dia, perbaikan pada dua indikator itu menjadi hasil langsung dari standardisasi layanan di seluruh terminal.

Merger juga membuka ruang optimalisasi peralatan bongkar muat. Alat dari terminal yang kelebihan kapasitas dialihkan ke terminal yang lebih membutuhkan. Beberapa terminal yang sebelumnya bermasalah soal peralatan kini dimodernisasi.

Rute Baru dan Kerja Sama Antarkorporasi

Produktivitas yang meningkat membuka peluang pengembangan bisnis. Widyaswendra menyebut kerja sama antarkorporasi hingga pembukaan rute atau service baru bermunculan karena kinerja masing-masing terminal sudah tinggi.

Transformasi ini diarahkan untuk memperkuat ekosistem maritim sekaligus mendukung efisiensi biaya logistik nasional. Menurut dia, kenaikan produktivitas dan kinerja operasional pada akhirnya diharapkan menekan biaya operasional kapal.

“Fokus kami adalah bagaimana ekosistem maritim bisa berkontribusi terhadap penurunan biaya logistik, sekaligus konektivitas yang semakin baik,” kata Widyaswendra.

INSA: Perbaikan Sudah Dirasakan Pelayaran

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners' Association (INSA), Carmelita Hartoto, menilai perbaikan layanan Pelindo selama lima tahun merger sudah dirasakan perusahaan pelayaran di berbagai wilayah. Pembenahan dinilai masih perlu dilanjutkan agar layanan semakin terintegrasi di seluruh Indonesia.

Carmelita menekankan kualitas layanan terminal berkaitan langsung dengan produktivitas kapal. Layanan terminal tidak hanya soal bongkar muat, tetapi juga efisiensi operasional dan waktu kapal berada di pelabuhan.

“Harapan kami agar perbaikan dan atau penggantian peralatan bongkar muat dapat segera dilakukan agar port stay lebih baik,” ujarnya.

Kesiapan peralatan menjadi salah satu faktor penting untuk mendukung kepastian jadwal pelayaran. Standardisasi layanan di berbagai terminal juga dibutuhkan agar operasional kapal bisa direncanakan lebih baik.

Tekanan Biaya dan Pentingnya Efisiensi

Tekanan biaya akibat pelemahan rupiah membuat efisiensi semakin penting bagi industri pelayaran. Biaya perawatan dan operasional kapal, termasuk suku cadang yang masih harus diimpor, ikut membengkak.

Dalam kondisi itu, kepastian layanan di pelabuhan menjadi krusial. Carmelita menyebut pelaku usaha membutuhkan layanan yang semakin baik, terintegrasi, dan memberi kepastian operasional.

Penutup: Lima tahun setelah merger, Pelindo masih menghadapi pekerjaan rumah berupa pemerataan kesiapan peralatan bongkar muat di seluruh terminal. Bagi industri pelayaran, kelancaran di sisi darat itu menentukan seberapa besar efisiensi biaya logistik yang bisa ditekan.

Reporter: Okta Nugraha
Sumber: sentralberita.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top