WRI Proyeksi Subsidi Solar Rp161 Triliun Bisa Dihemat lewat Truk Listrik

Penulis: Sigit Wicaksono  •  Rabu, 07 Oktober 2026 | 11:18:00 WIB
WRI Indonesia memproyeksikan penghematan subsidi solar hingga Rp161 triliun melalui transisi truk listrik.

NUSA TENGGARA BARAT — Lembaga riset WRI Indonesia memproyeksikan penghematan subsidi solar hingga Rp161 triliun jika kendaraan logistik nasional beralih ke truk listrik. Proyeksi itu muncul di tengah kebutuhan impor solar yang terus naik setiap tahun. Uji coba koridor khusus truk listrik atau green freight corridor kini berjalan untuk menguji kelayakan transisi tersebut.

Urban Mobility Manager WRI Indonesia Dimas Fadhil memaparkan angka proyeksi itu dalam sesi diskusi Indonesia International Sustainability Forum (IISF) 2026 di Jakarta Pusat, Rabu (7/10). Menurut dia, transisi ke truk listrik dibutuhkan karena konsumsi bahan bakar solar terus tumbuh dan turut mendorong kenaikan kebutuhan impor.

Penghematan Rp161 Triliun dan Dorongan Impor Solar

Dimas menyebut analisis lembaganya menunjukkan penghematan subsidi bisa mencapai angka tersebut jika kebutuhan kendaraan logistik dialihkan ke truk listrik. "Analisis kami sebetulnya ketika ada transisi lain gitu ya kepada truk listrik akan terjadi penghematan subsidi sebesar Rp161 triliun," ujarnya.

Angka itu menjadi salah satu dasar dorongan transisi di sektor logistik, sektor yang selama ini paling bergantung pada solar bersubsidi.

Dua Hambatan Utama Menurut Pelaku Industri

WRI Indonesia mencatat dua tantangan utama yang muncul dari pelaku industri dan logistik. Pertama, keandalan kendaraan dan infrastruktur pendukungnya. Kedua, harga truk listrik yang masih mahal.

"Jadi seperti charging station, kemudian truknya bisa jalan berapa jauh, dan juga yang kedua adalah harga (truk listrik) yang cukup mahal," kata Dimas.

Kekhawatiran soal jarak tempuh dan ketersediaan stasiun pengisian daya menjadi pertimbangan praktis bagi operator angkutan barang yang beroperasi lintas provinsi.

Lima Pilar Uji Coba Green Freight Corridor

Untuk menjawab hambatan tersebut, uji coba green freight corridor atau koridor khusus truk listrik tengah berjalan. Pelaksanaannya berpijak pada lima pilar utama:

  • Framework atau tata kelola beserta pilar pendukungnya
  • Call for project trial yang mengundang pelaku usaha mencoba kendaraan listrik secara langsung
  • Pemasangan infrastruktur pengisian daya, baik permanen maupun sementara
  • Koordinasi lintas pemangku kepentingan, didukung Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan
  • Evaluasi dan pemantauan terukur pada setiap kebijakan yang diambil

Harapan Sebelum Kebijakan Permanen

Dimas berharap koridor ini menjadi ruang uji coba sebelum aturan permanen diterapkan. "Kami berharap green freight ini juga bisa menjadi sebuah ajang uji coba gitu ya sebelum nanti menjadi sesuatu yang permanen, apa saja yang perlu di-unlock, apa saja yang perlu di-tackle dari sisi pemerintah maupun dari sisi pengusaha," ujarnya.

Bagi pengusaha logistik, hasil uji coba ini akan menentukan seberapa cepat peralihan armada diesel ke listrik bisa dilakukan tanpa mengganggu biaya operasional harian.

Reporter: Sigit Wicaksono
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top