NUSA TENGGARA BARAT — Taman Nara di kaki Gunung Wakasuka, Prefektur Nara, Jepang, kembali jadi sorotan setelah seorang warga setempat mendapati turis asing menyodorkan plastik sisa makanan kepada rusa di sana. Insiden yang tersebar luas di media sosial itu menimpa lebih dari 1.400 ekor rusa sika liar yang menghuni kawasan tersebut. Satwa-satwa ini bukan hewan biasa, melainkan Monumen Alam Nasional Jepang yang dilindungi hukum.
Warga Jepang yang merekam kejadian itu langsung merebut plastik dari mulut rusa dan menegur kedua turis tersebut. Insiden melibatkan seorang pria dan seorang wanita yang diduga anaknya. Aksi itu memicu kemarahan warganet, terutama karena rusa Nara punya status istimewa yang tak dimiliki satwa liar di tempat lain.
Dalam ajaran Shinto, rusa di Taman Nara dianggap sebagai pembawa pesan para dewa. Menurut panduan resmi Japan National Tourism Organization (JNTO), keyakinan ini berakar dari legenda dewa Takemikazuchi-no-mikoto yang tiba di Kuil Kasuga Taisha dengan menunggangi seekor rusa putih.
Cerita itulah yang membentuk kepercayaan masyarakat bahwa rusa Nara adalah utusan suci. Di masa lalu, menyakiti hewan-hewan ini bisa diganjar hukuman mati. Kini status mistis itu berganti menjadi perlindungan hukum formal, pemerintah Jepang menetapkan rusa Taman Nara sebagai Monumen Alam Nasional yang wajib dijaga kelestariannya.
Rusa Nara punya kebiasaan yang jarang ditemukan pada satwa lain. Mereka meniru gerakan manusia dengan membungkukkan kepala saat meminta makanan. Perilaku ini membuat interaksi dengan pengunjung terasa berbeda dibanding wisata satwa pada umumnya.
Pengunjung hanya diperbolehkan memberi makan shika senbei, kue beras rusa yang terbuat dari dedak gandum dan tepung beras tanpa gula. Kue ini dijual khusus di area taman dan aman bagi pencernaan hewan.
Jika persediaan makanan habis, pengunjung cukup mengangkat dan menunjukkan kedua telapak tangan kosong. Rusa-rusa itu akan paham dan pergi dengan tenang mencari pengunjung lain.
Rusa-rusa ini bebas berkeliaran di trotoar, berteduh di teras kuil, bahkan menyeberang jalan raya dengan tertib. Tidak ada kandang yang mengurung mereka. Meski tampak jinak, mereka tetap satwa liar yang instingnya terjaga.
Pada malam hari, kawanan rusa kembali ke area hutan atau cagar alam untuk tidur. Pengunjung disarankan tidak menggoda mereka dengan makanan dan tetap waspada, terutama saat musim kawin di musim gugur ketika rusa jantan lebih sensitif.
Jika Anda memperlihatkan kue beras tetapi menyembunyikannya atau terlalu lama memberikannya, rusa bisa menjadi tidak sabar. Mereka mungkin menyundul atau menarik pakaian Anda.
Insiden pemberian plastik kepada rusa Taman Nara menjadi pengingat penting bagi wisatawan yang berkunjung ke destinasi satwa. Aturan pemberian makan biasanya tertulis jelas di area taman dan situs resmi pengelola.
Sebelum berangkat, ada baiknya mempelajari etika lokal dan regulasi perlindungan satwa di destinasi yang akan dikunjungi. Informasi terkini soal aturan kunjungan dapat dikonfirmasi melalui situs resmi pengelola Taman Nara atau JNTO.
Bagi yang berencana ke Nara, luangkan waktu setidaknya setengah hari untuk menjelajah area taman dan Kuil Kasuga Taisha. Datanglah pada pagi hari saat rusa lebih aktif dan suasana masih sejuk.