NUSA TENGGARA BARAT — Memasuki usia 8-9 bulan, banyak bayi tiba-tiba menangis atau menempel erat saat digendong orang lain. Kondisi ini disebut stranger anxiety dan sebenarnya tanda perkembangan otak yang sehat. Simak 7 cara mengatasi kecemasan bayi terhadap orang asing berikut ini.
Bayi yang menolak digendong kerabat atau teman sering membuat ibu merasa canggung. Padahal, reaksi ini muncul karena otak bayi sedang berkembang pesat dan mulai bisa membedakan wajah yang dikenalnya dari yang tidak.
Psikolog menyebut fase ini sebagai stranger anxiety. Munculnya kecemasan justru menandakan ikatan emosional bayi dengan pengasuh utamanya terbentuk dengan baik.
Pada bulan-bulan awal kehidupannya, bayi belum punya ingatan jangka pendek yang matang. Ari Brown, M.D., dokter anak dan penulis buku Baby 411: Clear Answers and Smart Advice for Your Baby's First Year, menjelaskan bahwa jika mainan diambil dari seorang bayi, baginya mainan itu seolah tidak ada lagi.
Hal yang sama berlaku untuk orang. Itulah sebabnya bayi baru lahir tidak keberatan berpindah dari satu gendongan ke gendongan lain. Namun seiring bertambahnya usia, kemampuan berpikirnya berkembang.
Sekitar usia 8 atau 9 bulan, bayi mulai memahami object permanence — kesadaran bahwa sesuatu tetap ada meski tidak terlihat. Ia mulai merindukan kehangatan dan keakraban bersama ibunya saat berada di ruangan berbeda.
Perasaan ini memicu dua jenis ketakutan yang sangat wajar: takut pada orang asing dan takut berpisah dari pengasuh utama.
Setiap bayi menunjukkan reaksi berbeda. Mengutip Parents, berikut tanda-tanda yang perlu ibu perhatikan:
Jika bayi menolak ajakan interaksi, tidak perlu memaksa atau meminta maaf berlebihan. Cukup jelaskan bahwa si kecil butuh waktu untuk merasa nyaman. Penjelasan singkat ini biasanya membuat orang lain lebih pengertian.
Minta orang tersebut berbicara kepada bayi sementara bayi tetap berada di pangkuan atau gendongan ibu. Cara ini memberi bayi rasa aman sambil perlahan mengenali wajah dan suara baru.
Bayi sangat peka terhadap energi orang di sekitarnya. Nada suara lembut dan bahasa tubuh rileks membantu bayi memahami bahwa orang asing tersebut aman. Hindari gerakan tiba-tiba atau suara keras yang bisa membuatnya kaget.
Jika orang asing tersebut adalah calon pengasuh atau ART, atur beberapa pertemuan awal dengan ibu tetap hadir. Lisa M. Asta, M.D., profesor klinis pediatri di University of California, San Francisco, menyarankan agar ibu mendampingi bayi saat ia mulai merasa nyaman dengan orang tersebut.
Saat bayi menangis, tanggapi dengan cara yang menenangkan. Hindari mengabaikan rasa tidak nyamannya atau membiarkannya menangis sendirian. Respons cepat dari ibu justru memperkuat rasa aman bayi.
Cari berbagai kesempatan untuk memperkenalkan bayi kepada orang-orang baru. Semakin sering ia bertemu wajah asing dalam situasi aman, semakin cepat ia terbiasa dan mengurangi reaksi takut.
Setiap bayi punya temperamen dan tingkat kemampuan bersosialisasi sendiri, sama seperti orang dewasa. Biarkan bayi menjalin interaksi sesuai kenyamanannya. Memaksa bayi mendekati seseorang justru bisa memperkuat rasa takutnya.
Stranger anxiety umumnya mereda seiring bertambahnya usia, terutama setelah anak bisa berjalan dan berbicara. Namun, konsultasikan ke dokter anak jika kecemasan berlangsung sangat intens hingga mengganggu pola makan dan tidur, atau jika bayi tampak takut bahkan pada pengasuh utama.
Kecemasan bayi terhadap orang asing bukan tanda manja atau kurang bersosialisasi. Ini justru bukti bahwa bayi sudah mengenali dan mempercayai ibu sebagai tempat amannya. Dengan pendekatan bertahap dan penuh kasih sayang, si kecil akan belajar bahwa dunia di luar pelukan ibu juga aman untuk dijelajahi.