MATARAM — Keberadaan PMII di Nusa Tenggara Barat tercatat sejak 1972 berdasarkan data survei keanggotaan yang pernah dikeluarkan Pengurus IKA PMII. Rentang lebih dari lima dekade itu menjadikan organisasi ini bagian panjang dari sejarah gerakan mahasiswa dan kaderisasi intelektual di daerah tersebut.
Selama periode itu, PMII NTB berfungsi sebagai ruang pembentukan generasi muda melalui kaderisasi, pengembangan intelektualitas, pengalaman berorganisasi, dan keterlibatan dalam persoalan sosial kemasyarakatan. Dari proses panjang tersebut lahir kader yang kemudian mengambil peran di lingkungan akademik, pemerintahan, politik, profesi, dunia usaha, maupun ruang sosial lainnya.
Kritik yang Lama Dipelihara di Sudut Kedai Kopi
Sebuah tulisan kritik internal menyebut dirinya lahir dari keresahan yang terlalu lama dipelihara dan percakapan panjang di sudut-sudut kedai kopi. Penulisnya mengaku menampung kegelisahan anggota dan kader yang berkali-kali ingin bersuara tetapi memilih diam karena takut suaranya dianggap sebagai pembangkangan.
"Ada masalah yang terlalu lama dibiarkan menjadi rahasia bersama yang kemudian dibicarakan ketika kopi masih panas lalu dilupakan ketika gelas telah kosong," tulis penulis dalam dokumen tersebut.
Penulis menegaskan tulisan itu bukan alat menghakimi siapa pun, melainkan cermin bersama. Menurut dia, organisasi yang sehat bukan organisasi yang tidak memiliki masalah, tetapi organisasi yang berani menatap masalahnya sendiri tanpa sibuk mencari siapa yang harus disalahkan.
Pandangan itu juga diakui sebagai tamparan bagi penulisnya sendiri. Menjadi bagian dari sebuah organisasi, katanya, berarti memiliki keberanian mengkritik rumah sendiri sebelum rumah itu kehilangan alasan untuk disebut rumah.
Bukan Krisis Kader, tapi Krisis Cara Merawat Kader
PMII NTB dinilai tidak sedang mengalami krisis karena kekurangan kader. Organisasi ini justru memiliki banyak kader, alumni, jaringan, dan pengalaman sejarah yang semestinya menjadi modal untuk terus tumbuh.
Dari rahim PMII NTB telah lahir akademisi, birokrat, praktisi, aktivis, politisi, dan pengusaha yang mengambil peran dalam kehidupan masyarakat. Sejarah itu membuktikan kapasitas organisasi dalam membentuk manusia dan mendistribusikannya ke berbagai ruang kehidupan.
Namun keberhasilan sejarah tersebut tidak boleh membuat organisasi terlena. Persoalan paling mendasar yang diangkat adalah bagaimana kader dirawat, dikembangkan, didistribusikan, dan diberi ruang untuk tumbuh secara adil.
Kader potensial tidak selalu ditemukan, tidak selalu diberi ruang, dan tidak selalu didistribusikan berdasarkan kapasitas. Patronase, politik gerbong, segmentasi kelompok, dan ego sektoral justru semakin menentukan akses terhadap kesempatan.
Risiko Bergeser dari Organisasi Kader
Jika kecenderungan itu terus berlangsung, PMII NTB berisiko bergeser dari organisasi kader yang memproduksi manusia merdeka menjadi organisasi yang mereproduksi jaringan kekuasaan internal. Peringatan itu ditegaskan penulis sejak awal sebagai tesis utama tulisan.
Berbagai persoalan yang muncul dalam tubuh PMII NTB, menurut tulisan tersebut, sering dibaca secara terpisah. Konflik antarkelompok disebut sebagai dinamika biasa organisasi, gerbong dianggap bagian dari kontestasi kepemimpinan, dan segmentasi dianggap konsekuensi dari perbedaan pilihan.
Perubahan zaman, perubahan karakter mahasiswa, perkembangan teknologi, dinamika sosial-politik, serta perubahan pola gerakan menghadirkan tantangan baru bagi proses kaderisasi. Karena itu, sejarah panjang dan warisan kader dinilai sebagai modal historis untuk evaluasi dan pembaruan, bukan sekadar kebanggaan yang diceritakan berulang-ulang.
Tulisan itu menempatkan dirinya sebagai cermin, bukan palu hakim. Penulisnya membuka ruang jika tulisan tersebut salah, diperdebatkan, bahkan dibantah, sepanjang ia dibaca sebagai upaya mengembalikan sesuatu yang semakin mahal dalam kehidupan organisasi.