MATARAM — Perayaan HUT ke-69 SMAN 1 Mataram tahun ini tidak sekadar seremoni. Sekolah menengah atas negeri tertua di Kota Mataram itu menjadikan isu lingkungan sebagai benang merah seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari pameran karya siswa hingga penjurian oleh DLHK Provinsi NTB.
Kepala SMAN 1 Mataram Burhanudin menyebut perayaan tahun ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Konsep pelaksanaan yang tadinya digelar terpisah, kini disatukan dalam satu momentum. Gebyar Prestasi Siswa, Terune-Dedare SMANSA, pemilihan ekstrakurikuler terpopuler, hingga pemberian penghargaan karya inovatif siswa digelar bersamaan.
Bak Sampah hingga Pencacah Plastik Sederhana
Karya inovatif yang dipamerkan siswa kelas XI diarahkan pada konsep Sekolah Adiwiyata yang dirancang sekolah. Beberapa hasil karya yang ditampilkan antara lain bak sampah, pencacah plastik sederhana, dan sejumlah karya ramah lingkungan lainnya.
“Hasil-hasil karya itu adalah dari kegiatan kokurikuler anak yang kelas XI. Jadi sekaligus kokurikuler ini menghasilkan karya untuk menunjang kegiatan Adiwiyata,” terang Burhanudin, Minggu (27/9).
Pameran kreativitas siswa dinilai langsung oleh DLHK NTB. Penilaian itu sekaligus menentukan pemenang dan pemberian hadiah. Penyerahan penghargaan kepada karya inovatif siswa menjadi momentum peluncuran SMAN 1 Mataram sebagai Sekolah Adiwiyata Level I.
Modal Tiga Tahun Berturut-turut Sekolah Bersih dan Sehat
Keputusan menjadikan SMANSA sebagai sekolah peduli lingkungan tidak datang tiba-tiba. Sekolah ini sudah tiga tahun berturut-turut menyandang status sekolah bersih dan sehat tingkat provinsi. Capaian itu menjadi pijakan untuk mengejar gelar Sekolah Adiwiyata.
Isu krisis lingkungan dan darurat sampah menjadi alasan lain. Sekolah ingin membangun kesadaran ekologis pada siswanya. Harapannya, lahir gerakan lingkungan yang tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan sekolah, tapi juga masyarakat sekitar.
Bentuk Pokja Hemat Energi dan Pengolahan Sampah
Burhanudin menegaskan pihaknya terus memperkuat kerja sama dengan DLHK untuk mencapai Sekolah Adiwiyata level mandiri, tingkatan tertinggi dalam program tersebut. Berbagai syarat dan kriteria tengah dilengkapi, termasuk menyediakan beragam jenis tumbuhan sesuai jumlah siswa.
Sekolah juga tengah membentuk kelompok kerja (Pokja) yang bertugas menyelesaikan persoalan lingkungan secara nyata. Pokja yang dibentuk mencakup Pokja hemat energi hingga Pokja pengolahan sampah. Pembentukan Pokja itu melibatkan 20 persen dari total siswa.
“Jadi harapan kami di SMA Negeri 1 Mataram ikut terlibat dalam penanganan sampah,” pungkasnya.