MATARAM — Pelatihan bertema "Belajar, Praktik, Sukses Berbudidaya" itu menyasar sejumlah unsur masyarakat, mulai dari anggota Pekarangan Pangan Lestari (P2L), Kelompok Wanita Tani (KWT), kepala lingkungan (kaling), hingga pegiat budidaya ikan perkotaan. Kepala Bidang Budidaya Perikanan Dinas Perikanan Kota Mataram Leo Amri Saleh menuturkan, peserta tersebar di sejumlah kelurahan di Kota Mataram.
Menurut Leo, pelatihan dilatarbelakangi potensi ekonomi budidaya perikanan yang cukup besar, khususnya ikan patin. Keterbatasan lahan di wilayah perkotaan menjadi kendala utama yang membuat banyak warga enggan memulai usaha budidaya.
Kolam Terpal Jadi Solusi Lahan Sempit di Perkotaan
DKP memperkenalkan metode kolam terpal sebagai jawaban atas persoalan lahan terbatas. Kolam jenis ini dinilai lebih murah dari segi pembuatan, lebih mudah diawasi, dan fleksibel ditempatkan di pekarangan rumah.
"Karena itu kita berfokus pada solusi pemanfaatan lahan terbatas melalui metode kolam ikan terpal," kata Leo di Mataram.
Ia menambahkan, metode kolam terpal sangat cocok diterapkan di kawasan perkotaan yang rata-rata memiliki pekarangan sempit. Warga tidak perlu menyewa lahan luas untuk memulai budidaya patin skala rumah tangga.
Materi Pelatihan: dari Kualitas Air hingga Strategi Panen
Peserta tidak hanya dibekali teori. Mereka mendapat pengetahuan teknis tahapan budidaya, mulai dari pengelolaan kualitas air, pemberian pakan yang efisien dan berkualitas, hingga teknik panen agar hasil optimal dan menguntungkan.
Untuk mendukung praktik, peserta menerima bantuan sarana dan prasarana budidaya. Bantuan meliputi kolam terpal, chamber, aerator, mesin, pakan, serta benih ikan patin.
"Semua peserta mendapatkan bantuan sarana prasarana budidaya ikan patin kolam terpal. Beberapa sudah didistribusikan di lapangan, tiga bulan sudah bisa panen," terang Leo.
Harga Patin Rp 33 Ribu per Kilogram, Peluang Pasar Dinilai Terbuka
Leo menyebut ikan patin memiliki prospek ekonomi menjanjikan. Selain relatif mudah dipelihara, permintaan pasar terhadap ikan tersebut dinilai cukup tinggi. Harga patin saat ini berada di kisaran Rp 33 ribu per kilogram.
"Ikan patin sekilonya itu Rp 33 ribu. Kalau sudah tahu cara budidaya, mungkin mereka punya keinginan untuk menambah kolamnya yang lebih besar. Juga bisa untuk usaha bisa dijual untuk MBG, kan patin yang utama dicari baru kemudian yang lain. Patin ini nilai pasarnya bagus," pungkasnya.
Dengan pengetahuan budidaya yang diperoleh, warga diharapkan tidak berhenti pada skala kecil. Mereka bisa menambah jumlah kolam jika usaha yang dijalankan mulai memberi hasil.
"Pelatihan ini menjadi awal bagi terciptanya peluang usaha baru dan peningkatan kemandirian ekonomi keluarga di Kota Mataram," harap Leo.