Pencarian

Kakanwil Kemenag NTB Gembleng Karakter Ribuan Siswa MAN 2 Mataram, Ingatkan Bahaya Bullying dan Jejak Digital

Kamis, 01 Oktober 2026 • 11:16:01 WIB
Kakanwil Kemenag NTB Gembleng Karakter Ribuan Siswa MAN 2 Mataram, Ingatkan Bahaya Bullying dan Jejak Digital
Kakanwil Kemenag NTB Dr. H. Zamroni Aziz memberikan pembinaan karakter kepada ribuan siswa dan guru MAN 2 Mataram, Rabu (30/9/2026).

MATARAM — Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTB Dr. H. Zamroni Aziz menegaskan pendidikan di madrasah tidak boleh berhenti pada pencapaian akademik semata. Menurutnya, nilai kebangsaan, empati, demokrasi, dan ketaatan hukum mesti menjadi perilaku sehari-hari siswa. Penekanan itu disampaikan Zamroni saat membina ribuan siswa dan guru MAN 2 Mataram, Rabu (30/9/2026).

Pembinaan berlangsung setelah Zamroni mengikuti pembelajaran di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI di Jakarta. Materi yang ia peroleh di forum itu dibawa langsung ke ruang kelas madrasah. Zamroni menyasar penguatan karakter sebagai bekal menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045.

Karakter Jadi Ukuran Keberhasilan Pendidikan

Zamroni menilai keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari nilai ujian atau prestasi akademik. Karakter, rasa empati, dan ketaatan pada aturan dinilai sama pentingnya. Ia menyebut siswa sebagai penerus generasi saat ini.

"Kalian inilah penerus kami. Keberhasilan pendidikan itu bukan cuma dihitung dari nilai ujian atau prestasi akademik saja, tapi dari karakter, rasa empati, dan sejauh mana kalian taat pada aturan," ujar Zamroni.

Ia meminta madrasah menciptakan lingkungan pendidikan yang adil, aman, dan nyaman bagi seluruh siswa. Tidak boleh ada perlakuan berbeda terhadap peserta didik hanya karena latar belakang sosial maupun ekonomi.

Guru Diminta Jadi Teladan, Jangan Ada Bullying

Guru diminta menjadi teladan sekaligus membuka ruang dialog yang demokratis di kelas. Zamroni juga mengingatkan pentingnya mencegah perundungan atau bullying yang dapat mengganggu perkembangan karakter siswa.

"Kesamaan derajat itu harus kita praktikkan di lingkungan madrasah. Jangan ada bullying. Guru harus memberikan contoh bagaimana menghargai setiap siswa dan perbedaan yang ada," tegasnya.

Peringatan itu menyasar relasi antar siswa di lingkungan madrasah. Guru diposisikan sebagai contoh pertama dalam menghargai perbedaan.

Etika Bermedia Sosial dan Ancaman Berita Bohong

Perhatian Zamroni juga menyasar perilaku siswa di ruang digital. Perkembangan teknologi informasi menurutnya harus diimbangi pemahaman hukum dan etika bermedia sosial. Siswa diminta lebih bijak dalam menerima maupun menyebarkan informasi.

"Ketaatan hukum itu melingkupi etika kita berselancar di dunia maya. Anak madrasah harus cerdas saring informasi, jangan sampai ikut menyebarkan berita bohong atau ujaran kebencian yang memecah belah persatuan," katanya.

Ia mengingatkan kecerobohan di media sosial bisa membawa siswa berhadapan dengan persoalan hukum. Karena itu, pemahaman etika digital dinilai sama penting dengan penguasaan materi pelajaran.

Kuis Pancasila dan Hadiah Uang Tunai

Suasana pembinaan berlangsung cair ketika Zamroni memberikan kuis spontan kepada para siswa. Sejumlah siswa ditantang tampil ke depan untuk menghafalkan teks Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Siswa yang mampu menjawab tantangan itu mendapat hadiah uang tunai ratusan ribu rupiah. Meski begitu, Zamroni menegaskan kemampuan menghafal bukan tujuan akhir dari pendidikan karakter.

"Hafal itu cuma pintu masuk. Yang paling penting adalah bagaimana nilai-nilai itu hidup dalam perilaku kalian sehari-hari," katanya.

Dari OSIS hingga Tertib Berlalu Lintas

Penerapan nilai kebangsaan menurut Zamroni bisa dimulai dari hal sederhana. Aktif berorganisasi di OSIS, menghargai perbedaan pendapat, menaati tata tertib sekolah, hingga tertib berlalu lintas di jalan raya. Semua itu disebutnya sebagai latihan karakter yang nyata.

Zamroni berharap MAN 2 Mataram sebagai salah satu madrasah unggulan di NTB melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara intelektual. Karakter kuat, integritas, dan kepedulian terhadap lingkungan sosial dinilai sama penting.

"Karakter itu yang akan menjadi bekal kalian ke depan. Kalian bukan hanya dipersiapkan untuk menjadi orang pintar, tetapi juga menjadi generasi yang mampu menjaga persatuan, menghormati hukum dan membawa bangsa ini menuju Indonesia Emas 2045," tegasnya.

Follow www.lensasumbawa.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: ayolombok.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks