NUSA TENGGARA BARAT — Komisi Eropa mengumumkan dana investasi Scaleup Europe Fund resmi beroperasi penuh di tengah musim libur musim panas Eropa. Pengumuman itu muncul pada pekan lalu, dan sehari setelahnya, kesepakatan pertama langsung diumumkan ke publik. ICEYE, perusahaan intelijen berbasis satelit asal Finlandia, menjadi penerima pertama pendanaan dari kendaraan investasi publik-swasta yang unik ini.
Pendanaan tersebut merupakan bagian dari putaran Seri F ICEYE yang dipimpin bersama oleh Scaleup Europe. Target pengumpulan dana mencapai €5 miliar (sekitar Rp 92 triliun) dan akan disalurkan ke startup tahap pertumbuhan yang berbasis di Uni Eropa atau negara mitra, khususnya yang bergerak di sektor strategis.
ICEYE bergerak di bidang intelijen berbasis satelit yang kini menjadi infrastruktur kritis bagi pemerintahan di berbagai negara. CEO ICEYE, Rafal Modrzewski, menegaskan pentingnya pendanaan lokal bagi perusahaan seperti miliknya.
"Intelijen berbasis antariksa menjadi infrastruktur kritis bagi pemerintahan, dan Scaleup Europe Fund hadir agar perusahaan seperti kami tidak perlu meninggalkan Eropa untuk bersaing secara global," tulis Modrzewski di LinkedIn.
Pilihan ini menunjukkan arah investasi Scaleup Europe yang fokus pada teknologi dalam, termasuk AI, bioteknologi, energi, robotika, semikonduktor, dan antariksa. Mandat pengelolaan dana mencakup bidang-bidang tersebut, ditambah teknologi digital, ilmu hayati, dan manufaktur canggih.
Scaleup Europe berbeda dari program pendanaan Uni Eropa sebelumnya. Dana ini tidak dikelola langsung oleh institusi Eropa, melainkan oleh EQT, manajer aset asal Swedia yang terpilih melalui proses seleksi terbuka untuk "manajer dana berpengalaman".
Beberapa kandidat lain yang dilaporkan ikut bersaing termasuk Eurazeo, Northzone, Vitruvian Partners, dan Atomico. EQT sendiri memiliki keterkaitan dengan keluarga Wallenberg yang sempat disebut sebagai calon investor utama dana ini.
EQT mengelola aset lebih dari US$300 juta dan akan membantu Scaleup Europe mencapai target pengumpulan dana, dimulai dengan komitmen modal dari internal perusahaan. CEO EQT, Per Franzén, menyebut inisiatif ini sebagai "momen besar bagi Eropa".
"Eropa telah membuktikan kemampuannya menciptakan perusahaan teknologi tahap awal yang sukses. Tantangannya sekarang adalah mengembangkan bisnis tersebut menjadi pemimpin global sambil mempertahankan akar Eropa mereka," ujar Franzén dalam pernyataan resmi.
Penutupan pertama dana ini ditopang investasi €1 miliar (sekitar Rp 18,4 triliun) dari Komisi Eropa, yang berinvestasi bersama institusi lain dari berbagai negara Eropa yang berperan sebagai "investor pendiri".
Investor pendiri tersebut mencakup raksasa asuransi Jerman Allianz, APG yang mewakili dana pensiun Belanda ABP, CriteriaCaixa dan Mouro Capital milik Santander dari Spanyol, serta sejumlah institusi Italia seperti Fondazione Compagnia San Paolo, Intesa Sanpaolo, dan Fondazione Cariplo. Dari Denmark, EIFO dan Novo Holdings turut bergabung.
Pengumpulan dana Scaleup Europe dijadwalkan berlanjut hingga 2027. Putaran kedua disebut berpotensi terbuka bagi investor non-Eropa selama sejalan dengan tujuan dana. Komisi Eropa bahkan sempat mengindikasikan kemungkinan ekspansi hingga €25 miliar (sekitar Rp 460 triliun), yang akan menempatkan dana ini setara dengan dana pertumbuhan Asia dan Amerika Serikat.
Target €5 miliar menjadikan Scaleup Europe sebagai pengecualian di kancah modal ventura Eropa. Perusahaan modal ventura di benua ini biasanya mengelola dana dalam skala jutaan euro, jarang mencapai miliaran.
Kehadiran European Tech Champions Initiative dari Dana Investasi Eropa yang aktif mendukung perusahaan modal ventura tahap pertumbuhan sebagai dana-dana-investasi (fund-of-funds) dapat mempercepat perubahan lanskap ini. Scaleup Europe hadir untuk mengisi celah pendanaan yang selama ini menjadi keluhan utama startup teknologi Eropa: pendanaan tahap akhir yang terbatas atau hanya tersedia di luar negeri.
Bagi pasar Indonesia, skema ini menarik untuk dicermati sebagai model alternatif pembiayaan startup strategis. Daripada mengandalkan investor asing sepenuhnya, keterlibatan pemerintah dan institusi lokal dalam pendanaan tahap lanjut bisa menjadi kunci menjaga perusahaan teknologi tetap tumbuh di dalam negeri.